sebuah cerita

ini sebuah cerita, ya ttg gw.

2 minggu yg lalu tepat di hari ini jm segini gw lg sbk2nya mempersiakan diri untuk keberangkatan gw ke semarang, mencoba menjadi backpacker. brgkt ke stasiun kereta senen dengan ojek dari rscm kencana tempat datok dirawat. saat itu belum ada tiket ditangan, ya go show berfikir bahwa ini indonesia pasti ada calo dimana2. jadi dengan tenang brgkt ke sana dgn tekad yg kuat untuk sampai di semarang.

sampai distasiun senen, tak ada satu pun calo yg menghampiri menawarkan tiket, ya saat perasaan masih bys saja, masih yakin bahwa akan ada tiket kereta menuju semarang dengan kereta bisnis, gw lgsg mengantri di loket untuk beli tiket bisnis menuju semarang lima belas menit mengantri tiba terdengar dari pengeras bahwa tiket kereta bisnis menuju semarang sudah habis, mendengar itu perasaan mulai tidak tenang. langsung merubah kelas bisnis menjadi kelas ekonomi, hanya mengantri selama lima menit pengeras suara kembali memberi pengumuman bahwa tiket kereta ekonomi ke semarang telah habis. baiklah ini adalah saat dimana keresahan mulai datang. memutuskan untuk beli tiket ke daerah jawa mana aja, setelah itu dari sana menuju ke semarang. dan ternyata tiket kereta hari itu kelas ekonomi dan bisnis menuju ke daerah jawa sudah habis.

yap ini adalah saat dimana perasaan kecewa datang tp tekad itu masih kuat, harus ke semarang dengan cara apapun, hari sudah gelap ya hampir setengah tujuh saat itu, gw memutuskan duduk sebentar di lantai melihat kondisi yang trjadi, memikirkan apa yang harus dilakukan untuk bisa segera ke semarang, tiba2 terlihat seorang bapak2 menawarkan travel menuju semarang, saat itu gw lgsg menghampiri bapak2 tersebut mau ikut travel tersbut tanpa pikir panjang. bapak itu menyuruh gw menunggu diplataran ruko yg sudah tutup bersama dgn beberapa penumpang lain yg tidak dapat tiket kereta.

dengan sabar menunggu tak disangka hujan deras datang, hujan angin, saat itu hanya mencoba mepet ke pitu ruko yang sudah tutup namun air hujan tetap mengejar, mencoba melindungi tas krn didlm tas ada dslr dan pastinya baju2 untuk di smrg nantinya. alhasil baju pun basah oleh air hujan, hujan yg semakin deras dan tak kunjung henti. tidak memungkinkan untuk pindah air sudah menggenang selutut, tempat berteduh yg lain berada jauh, akhirnya memutuskan untuk tetap berada di situ. sktr jm 8 mlm hujan mnjd gerimis, mobil travel pun datang, segera berlari ke  mobil travel, dan trnyata sudah penuh.

baiklah ini adalah saat dimana keputus asaan datang, tp tekad itu tetap kokoh, di otak sudah memutuskan untuk pergi ke terminal rawamangun u/ naek bis menuju semarang.  saat itu memutuskan untuk pergi dari stasiun karena sudah tak ada harapan utnuk pergi ke semarang dari sana, disaat sedang berjalan pergi meninggalkan stasiun ada seorang bapak menghampiri, menawarkan tiket kereta ekonomi ya saat itu kemana pun tujuan psti gw ambil dan brsyukur krn itu adalah tiket menuju semarang berangkat jam 9:30 kelas ekonomi menuju semarang, melihat harga yg diberikan cukup pantas, gw lgsg membeli tiket tersbeut, dan menunggu kereta datang dengan baju masih basah, duduk di stasiun sendiri. akhirnya kereta tiba tepat waktu. lgsg naek dan menuju tmpt duduk, gw duduk dgn perasaan lega krn tekad kuat ini membuahkan hasil, keesokan harinya pukul 06:15 gw udah berada di stasiun poncol semarang.

hikmah yang bisa diambil dengan tekad yg kuat kt bs melakukan apa saja dan percayalah semesta slalu mendukung hingga akhir. jangan pernah lepas kepercayaan yg ada. krn itu lah pondasi yang kuat untuk mengantarkan kita meraih tekad tersebut.

terima kasih semarang :)


Love You

Aku masih duduk lesu di trotoar jalan di gelora bung karno, ntah sudah berapa banyak bis transjakarta melintas di seberang ku, ya hari ini aku lemah, setelah timnas garuda di buat tak berkutik oleh iran, sekarang harus kalah lagi sama bahrain. Apakah mimpi untuk melihat garuda lolos ke babak berikutnya sudah pupus. Tidak ada yang perlu di salahkan menurut ku, pergantian pelatih, postur tubuh, kemampuan bermain, lelah, atau apapun itu. Tidak ada yang perlu di salahkan akui saja bahwa garuda sudah kalah. Tapi optimisme itu masih ada di hatiku, aku masih yakin masih bisa, lolos ke babak selanjutnya. Melihat supporter yang lain melintas, mereka tertunduk, semua pulang dengan raut wajah sedih.

Sebetulnya bukan hanya ini yang membuatku sedih, hari ini aku menyatakan perasaan ku kepada wanita yang aku sayangi, tapi seperti biasa jawabannya adalah “gw pikir dulu ya.” Ya itulah yang keluar dari mulut mungil wanita yang ku sayang. Kebanyakan dari wanita ketika mengucapkan itu, sebenarnya mereka mau menolak, tapi secara perlahan. Ya sudahlah sama seperti garuda hari ini, mereka sudah usaha masalah hasil yang gagal itu bukan kehendak mereka, siapa si yang ngga mau menang. Begitu juga denganku, aku juga mau hasilnya adalah wanita ini menjadi pacarku, tapi ajakan ku untuk nonton bola di GBK saja ia tolak.

Tiba-tiba seorang wanita duduk tepat di sampingku ia mengenakan jaket indonesia, melihatku lalu ia tersenyum.

“eh” hanya itu yang keluar dari mulutku.

“maaf ya gw nolak ajakan lu, soalnya gw udah punya tiket di VIP barat, dari cowo yang juga suka sama gw.”

Oh god tolong turunkan hujanmu malam ini doa itulah yang selalu ku panjatkan kepada allah saat hati ini sudah tidak menentu.  Tetes air hujan selalu bisa membuatku tenang, saat udara di luar sana begitu sejuk, saat itulah perasaan menjadi lebih baik.

“gw udah keburu janji duluan sama dia, ga mungkin dong gw batalin janji itu.”

“he eh” lagi-lagi mulutku tak bisa berbicara banyak.

“lu mau tau jawaban dari pertanyaan lu siang tadi?”

Kali ini tak keluar sepatah kata pun dari mulutku, terlalu banyak pikiran melayang di otak ini, ya imajinasi yang menakutkan, bahwa ia akan menyampaikan ia sudah jadian dengan lelaki lain,  dan sekarang laki-laki itu sedang menunggunya.

“kebetulan pas di pintu keluar tadi gw ngeliat lu, makanya gw ikutin lu sampai sini, sebelumnya gw udah pamit untuk pulang sendiri sama tuh cowo. Gw merhatiin lu dari tadi, duduk sendirian ya kaya kebiasaan lu dikampus tapi kali ini ada aura kesedihan memeluk diri lu.”

“masih aja sotoy tapi kali ini bener sih.” Ekspresiku tak berubah saat mengucapkan kata-kata itu dan masih tertunduk lesu.

“gw sayang sama lu, gw mau jadi pacar lu.”

Aku langsung menoleh ke arahnya, dengan wajah bodoh terpasang di muka ku, ia tersenyum dengan manis. Milyaran pertanyaan yang ingin ku tanyakan kepadanya di hapus saja dulu, aku tak ingin merusak momen ini. Perasaan ku begitu bahagia malam ini, semua kesedihan terhapus begitu saja.

“love you.” Ucapnya dengan lembut

“love you too.”


Lautan Merah

Hari ini timnas indonesia akan melawan  bahrain di gelora bung karno, seperti biasa aku harus menjadi salah satu orang yang berada di GBK, menyanyikan Indonesia raya bersama 75ribu rakyat indonesia yang ikut menyaksikan pertandingan itu secara langsung di GBK, berteriak INDONESIA, dan melakukan apa saja untuk dapat memberikan semangat kepada sebelas pemain garuda yang sudah bertarung demi nama bangsa. Jujur ketika menyanyikan lagu indonesia raya di GBK, hal itu bisa membuatku merinding, jantung berdegup cukup cepat, ku angkat kepala ku, dan menaruh lengan kanan ku di dada. Begitu bangga rasanya menjadi rakyat indonesia. Ya seperti ada sihir menyanyikan lagu indonesia raya saat tim garuda bertanding jauh lebih hikmat ketimbang saat upacara bendera saat aku besekolah atau saat hari kemerdekaan kita datang.

Aku sudah janjian dengan sepupuku di GBK, pertandingan akan dimulai pada pukul  tujuh malam ini,  sekarang waktu di jam tangan ku sudah menunjukan pukul lima, aku sudah berada di lingkungan lapangan GBK, sudah dipenuhi dengan para supporter yang ingin menyaksikan garuda bertanding, dari berbagai suku yang berada di indonesia, ya selain bencana yang dapat menyatukan kita, sepak bola juga merupakan ajang yang dapat membuat seluruh rakyat indonesia berteriak INDONESIA.

Hp ku berdering, aku dapat telfon dari sepupuku “halo, dimana de?

“Udah di GBK nih kak.”

“Dari tadi di bbm kok ga bales?”

“Bbnya low batt, makanya mau di sisain buat nelfon.”

“Terus sekarang  lu dimana?”

“Aduh ini pintu enam apa pintu empat ya?”

“Lu ga bisa baca angka romawi?”

“Ngga, pokoknya ade pake baju timnas warna merah.”

TUUUUUTT

WHAT! Aku melihat sekeliling 75ribu rakyat indonesia 99% mengenakan baju berwarna merah, ini lautan merah!


Perbedaan

seorang laki-laki duduk di pinggir danau, memakai headphone, mendengarkan lantunan lagu dari PSPnya. Ia menghayati tiap bait yang ia dengar, sampai seorang wanita duduk tepat disampingnya. laki-laki itu melepaskan headphonenya, ia berkata “Kenapa?”

wanita itu tanpa memalingkan wajahnya dengan pandangan tetap lurus ke arah danau berkata “Lagi bingung”

“bingung kenapa?”

percakapan ini terjadi tanpa saling memandang, masing-masing tetap pada pandangan ke danau menikmati keindahan danau itu.

“gw menyayangi seorang laki-laki, ia begitu baik, namun kami memiliki pola hidup yang berbeda. Ia tipikal orang yang pendiam, tidak punya banyak teman, lebih sering berkutat dengan hobinya sendiri seperti fotografi, menulis, atau bermain game. Ia jarang terdengar nongkrong dengan teman-temannya, lebih sering pulang ke rumah seusai aktifitasnya, sedangkan gw, gw senang nongkrong sama temen-temen gw, gw bawel, dan sering ikut berpartisipasi dalam organisasi. dunia kami begitu berbeda. Namun kami salng menyayangi, cuma gw tidak yakin menjalani hubungan ini.”

“kebetulan disini habis hujan, lihat itu.” laki-laki itu menunjuk ke pelangi yang membentang di atas danau.

 

 

“pelangi takkan indah jika hanya satu warna, perbedaanlah yang membuatnya indah.”

laki-laki itu berdiri dan berjalan pergi meninggalkan wanita tersebut, dari kejauhan laki-laki itu berteriak

“kita kan belom saling kenal”

dan senyum terukir di wajahnya.


pray for grandpa

ya allah, berilah kesembuhan kepada datok ku tercinta.

berikanlah umur yang panjang, berikan kesehatan untuk merasakan bulan ramadhan mu, berilah kesehatan untuk merasakan hari yang fitri, agar nanti bisa berkumpul kepada keluarga. kami segenap keluarga besar bahar nazar berdoa untuk kesembuhan datok kami tercinta.

bagi mereka yang membaca wordpress ini, tolong bantuan doanya untuk kesembuhan datok ku, ya saya tahu bahwa seharusnya kami sebagai keluarganya yang berdoa namun saya percaya doa kalian akan terdengar oleh allah. saya memohon bantuan doa kepada kalian yang membaca wordpress saya, terima kasih atas kebaikan kalian para pembaca wordpress saya.

 

terima kasih banyak.


cerpen

Seorang lelaki duduk, ditangannya terdapat novel, ia membalikan halaman per-halaman terkadang berhenti untuk membaca kalimat yang terdapat didalam novel tersebut, setelah usai membaca, terlihat senyum sinis terukir dibibirnya, seperti penghinaan atas apa yang baru saja ia baca. Seorang wanita yang ditemani moderator duduk tepat didepan lelaki itu, wanita itu sibuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh orang lain yang berada di ruangan yang sama. Selama tiga puluh menit, acara itu akhirnya berakhir. Tidak ada pertanyaan yang keluar dari mulut lelaki itu, pandangannya dan segala gerak-gerik yang ia lakukan seakan tersirat bahwa ia dapat membuat novel yang lebih menarik dari pada novel yang saat ini berada di tangannya. Wanita itu berdiri ia manghampiri lelaki tersebut, terhenti tepat didepannya dan melihat dengan wajah serius.

Lelaki itu membalas tatapan si wanita dan berkata, “Kenapa?”

“Dari tadi saya melihat kamu, dan segala gerak-gerik kamu seakan melecehkan novel yang saya buat.”

“Kalau kamu melihat saya melakukan hal itu, berarti saya memang sedang melecehkan buku kamu.”

Wanita tersebut tidak dapat mengeluarkan sepatah kata, rona wajahnya menjadi kemerahan, menandakan ia dalam keadaan marah.

“Kalau ada satu pertanyaan yang saya ingin lontarkan di tengah acara tadi, pertanyaan itu adalah, kenapa buku seperti ini diterbitkan, buku seperti ini lebih pantas menjadi bungkus dari kacang rebus.” Kata lelaki tersebut dengan nada hinaan.

“Kamu siapa?”

“Penulis kacangan, yang karyanya selalu ditolak oleh penerbit.”

“Tulisan kamu saja tidak pernah ada di rak toko buku di jakarta, tapi kamu berani melecehkan tulisan saya!” kata si wanita, nadanya marah. Membuat setiap orang yang sedang melakukan aktifitas terhenti ketika mendengar suara itu.

“Saya menulis, untuk memperlihatkan kepada pembaca bahwa cerita saya berkesan dihati pembaca, bukan untuk sebuah harga. Saya tidak menulis untuk sebuah bacaan ringan, saya menulis untuk membuat pembaca menghargai karya dari si penulis. Bukan seperti kamu, penulis muda yang lebih melihat selera pasar, buat saya pembaca berhak mendapatkan tulisan yang layak, dengan tata bahasa yang baik, tema yang menarik, dan alur cerita yang membuat mereka seperti sedang berada di sana menjadi orang ketiga yang menjadi saksi dari segala cerita.”

“Kalau begitu biarkan saya membaca salah satu dari karya kamu.”

“Baik, besok kita ketemu dicafe, saya akan memberikan tulisan terbaik saya, yang dapat membuat kamu menangis ketika alur di cerita itu sedang sedih, yang dapat membuat kamu tertawa ketika ada lelucon diantara dialog tokoh di dalam novel itu, yang akan membuat nafas kamu terhenti sesaat ketika adegan menegangkan terjadi, dan membuat kamu tidak ingin menutup buku tersebut, membuat mu tidak perduli dengan dunia ini.”

“Baik jam sebelas siang kita ketemu disini, kalau semua itu terjadi saat saya membaca buku kamu, maka kamu boleh meminta apapun dari saya, bahkan rela menarik buku saya dari peredaran.”

“Kalau sampai itu terjadi, kamu sebagai salah satu anak dari pemilik perusahaan penerbitan, saya hanya ingin meminta, terbitkan novel yang saya buat itu, dan berikan loyaltinya kepada para pangarang hebat yang ada di luar sana tapi karya tidak pernah dapat tempat di toko buku.”

“Saya janji akan melakukan itu.”

Lelaki itu berdiri, berjalan pergi meninggalkan wanita itu.

***

Keesokan harinya,mereka bertemu di salah satu cafe di jakarta. Duduk di salah satu sudut ditemani hot chocalate. Lelaki itu berbeda dari kemarin hari ini wajahnya lebih pujat, ia terlihat tidak sehat.

“Segitu tegangnya sampai kamu terlihat begitu pucat?” tanya si wanita.

“Mungkin.”

Si lelaki mengeluarkan buku yang terjilid spiral, rapi namun terlihat kotor. Ia memberikan buku tersebut kepada si wanita.

“Ini karya saya. Semoga kamu menyukainya.”

“Bagaimana saya bisa menghubungi kamu ketika saya sudah selesai membacanya?”

“Kamu akan tahu ketika kamu sudah selesai membaca buku itu.”

Lelaki itu berdiri, pergi meninggalkan si wanita, tanpa mengucapkan salam perpisahan.

***

Malam harinya, wanita tersebut duduk di balkon kamarnya, membaca buku yang baru ia dapat. Membaca setiap detil dari cerita itu, wajahnya terlihat serius seperti sedang menjawab soal ujian. Terkadang dahinya berkerut karena membaca tulisan yang sulit ia cerna, namun kadang ia tersenyum ketika ada cerita yang membuatnya bahagia. Ia melupakan malam, rasa kantuk seakan tidak menghantui matanya, ia terus membaca hingga matahari menyadarkannya akan pagi.

Wanita itu melihat keadaan sekelilinnya seakan linglung dengan apa yang terjadi, seakan baru sadar ia memiliki dunia yang sebenarnya. Ia segera bangkit bergegas untuk memulai aktifitas hari itu, tidak lupa membawa buku tersebut.

“Hari ini kamu beda.” Kata sahabat wanita itu, saat ini mereka berdua sedang duduk di sebuah cafe.

“Apanya yang beda?” tanya wanita itu kepada sahabatnya

“lu terlihat asing, seakan baru keluar dari dunia antah berantah.”

“Aku lagi baca sebuah novel.”

“Karya siapa?”

“Penulis kacangan.”

“Kok bisa?”

Wanita itu menjelaskan setiap detil permasalahan kepada sahabatnya. Wanita itu menceritakan bagaimana novel itu membuatnya terseret masuk seakan ia adalah orang ketiga yang berada di sana.

***

Wanita itu kembali duduk di balkon kamarnya ketika malam tiba, ia kembali terseret masuk kedalam dunia yang baru ia dapat. Ia membaca buku tersebut menahan nafas ketika adegan menegangkan terjadi, ia tertawa saat para tokoh bercerita tentang sebuah lelucon.

***

Seminggu berlalu, akhirnya wanita itu berhasil menyelsaikan membaca novel tersebut, di kertas terkhir novel itu terdapat biodata si penulis, wanita itu terhenyak ketika membaca kalimat-kalimat yang terdapat setelah biodata si penulis. Kalimat itu bertuliskan :

Bagi kalian yang menemukan buku ini,

tolong di kembalikan ke alamat yang tertera diatas

percuma kalo kalian berencana mengirimkan karya saya ke penerbit

karena karya saya yang satu ini sudah di tolak oleh semua penerbit

Si penulis bahkan menulikan semua penerbit yang sudah menolak karyanya, dan salah satu penerbit yang ia cantumkan, adalah penerbit milik ayah si wanita itu. Wanita itu segera menelfon sahabatnya.

“Naya.” Kata si wanita, Naya adalah nama sahabat si wanita.

“Kenapa?”

“Kamu masih inget novel yang aku ceritain waktu di cafe?”

“Inget.”

“Dia udah ngirimin karyanya ini ke penerbit punya ayah aku.”

“Trus?”

“Ditolak.”

“Kok bisa ya? Kamu kan salah satu tim penilai di penerbitan tersebut.”

“Kamu masih inget, ada satu novel yang aku buang ke tong sampah karena saat itu aku lagi marah karena tidak memiliki ide cerita. Padahal novel itu belum aku baca sama sekali, dan kesalahan si pengirim ia tidak mengirimkan soft copy.”

“Jangan-jangan ini novel yang kamu buang itu.”

“Naya temenin aku sekarang ke rumah si penulis.”

“Oke”

***

Si wanita dan sahabatnya segera berangkat ke rumah si penulis, sesampainya di sana. Mereka mengetuk pintu rumah yang mereka datangi. Keluar seseorang ibu, matanya masih sembab di akibatkan terlalu sering menangis.

“Deannya ada bu?” tanya si wanita kepada ibu tersebut.

Air mata mentes dari si ibu, dengan berat ia berkata “Dean sudah meninggal tujuh hari yang lalu, ia ditemukan orang pingsan di jalan dan segera dibawa ke rumah sakit namun nyawanya tidak bisa diselamatkan lagi.”

Wanita itu terlihat shock, tujuh hari yang lalu adalah saat dimana Dean memberikan novel itu kepadanya.

“Dean sakit apa bu?” Tanya Naya, Naya mengambil alih bicara karena ia melihat temannya masih terlihat shock.

“Ia mengidap kanker otak, dihari terakhirnya seharusnya ia tidak diperbolehkan pergi, tapi ia berkata ingin meminjamkan novel karyanya kepada temannya. Kalian ada perlu apa sama Dean?”

“Kami ingin mengembalikan novel ini.” Kata Naya, Ia memberikan novel Dean kepada ibu tersebut.

“Kalian tahu, Dean sangat menyayangi novel ini, ia ingin orang-orang membaca karyanya yang satu ini, hingga pada suatu hari ketika ia mengirimkan novel ini ke salah satu penerbit, ia melihat salah seorang dari karyawan penerbit tersebut membuang novel ini ke tong sampah,” isak tangis menetes dari mata si ibu. “Ia memengutnya dari tong sampah, itu yang menyebabkan novel ini kotor, ketika ibu bertanya kenapa tidak ia print ulang, ia hanya menjawab, ini adalah masterpiece yang bahkan softcopynya sudah tidak ada, ia berharap suatu hari nanti ada orang yang menghargai karyanya.”

Ketika mendengar ucapan dari ibu tersebut. Air mata si wanita menetes.

***

Ps : dibuat pada tanggal 13 April 2009


Kilat

Aku tidak pernah suka ada di tengah keramaian, hiruk-pikuk dan hingar-bingar itu membuat ku pusing, namun ketika aku mengucapkan hal itu kepada orang lain, orang lain akan berkata “kuburan aja kalo mau sepi”. Akhir-akhir ini kuburan juga menjadi tempat yang ramai, kesan angker di sana sudah terhapus, menjadi taman bermain, atau tempat orang mencari hantu. Bodoh ya manusia itu, dari pada peduli pada setan bukankah lebih baik peduli kepada orang-orang susah di luar sana, ketimbang harus mencari hantu.

Saat ini aku berada di tengah kota Jakarta, tepatnya dibunderan HI. Waktu sudah tengah malam atau mungkin hampir pagi, aku lupa mengenakan jam tanganku, dan batre hpku sudah habis, dilihat dari gelapnya malam dan jumlah kenderaan yang lewat disini, mungkin ini sekitar pukul satu pagi, tapi ya sudahlah aku sedang tidak ingin mengenal waktu, karena aku sedang menyibukan diriku dengan hobi baru yaitu fotografi, dari dulu adalah impian ku mengambil gambar Jakarta dimulai dari bunderan HI, dan mimpi utama ku adalah memfoto kilat, karena menurut ku kilat adalah blitz terindah yang diciptakan alam.

Langit malam ini di penuhi awan hitam, tampaknya alam sudah menyiapkan sambutan untuk ku,  ini akan menjadi hariku yang menyenangkan. Aku akan mewujudkan dua impianku sekaligus. Kilat sudah mulai menyambar dari segala penjuru langit, aku berada di tempat yang tepat . aku bisa mengambil gambar kilat dengan baik dari sini, aku segera mengatur seting kamera ku, mempersiapkan diri untuk kilat selanjutnya. Aku bidikan kamera ku tepat ke langit, sepersekian detik kilat menyambar ke arahku, saat itu aku segera menekan tombol shutter.

DAARRRR

Aku terhuyung jatuh seketika langsung tak sadarkan diri, tenggelam di sunyinya Jakarta malam hari.

 


janji

Aku berlari cukup cepat karena aku sudah terlambat menemui gadisku yang sedang menunggu di taman kota, aku bisa membayangkan ia sedang duduk di salah satu kursi yang tersedia di taman, dengan muka merah menahan marah, walaupun di telinganya tersumbat earphone mendengarkan lantunan lagu dari mp3 player miliknya namun aku sudah setengah jam terlambat dari waktu yang sudah kami tentukan bersama, kenyataannya aku baru selesai latihan pencak silat untuk pertandingan minggu depan, namun aku yakin ia akan mengatakan bahwa itu sebuah alasan, aku masih memakai celana latihan dan kaos dalam berwarna hitam serta jaket putih ku, itu menandakan bahwa aku segera menuju ke tempat pertemuan kami setelah usai latihan. Lari ku terenti tepat di depan gadisku duduk, seperti dugaanku ia terlihat sangat marah namun itu tak menutupi wajah manisnya.

“kamu tuh dari mana aja si! Aku udah nungguin kamu setengah jam lebih tau ga!”

“Tau kok, makanya aku buru-buru kesini, aku baru selesai latihan”

“Mulai deh sibuk dengan pencak silat kebanggaan kamu itu!”

“Yaudah aku minta maaf. Apa yang harus aku lakuin supaya kamu mau maafin aku?”

“Kamu harus janji, selama kamu jalan sama aku kamu ga boleh ngomongin silat, melakukan gerakan silat, atau apapun yang berbau olahraga bela diri itu!”

“Kalo ada yang ngeroyok kita, atau dalam keadaan terdesak masa aku ga boleh bela diri?”

“Ga boleh pokoknya! Mati skalian gpp.”

Aku menghela nafas, permintaan yang aneh, tapi jika tidak di turuti gadis ku yang satu ini akan dengan senang hati tidak berhubungan dengan ku selama satu minggu penuh, atau mungkin lebih.

“Ok aku turutin, sekarang senyum.”

Terukir senyum yang terlihat di paksakan di bibir gadisku, setelah itu ia segera berjalan pergi meninggalkanku, aku mengikutinya dari belakang, tiba-tiba seorang ibu berteriak karena tasnya dicuri, pencurinya lari ke arahku dengan reflek aku menghantamkan tinjuku ke arah pencuri tersebut hingga pencuri itu terjatuh, aku lupa bahwa sudah berjanji kepada gadisku untuk tidak melakukan bela diri dalam kondisi apapun, walaupun saat ini dirinya sudah berjalan sekiranya seratus meter di depan ku. Pencuri tersebut berdiri, ia mengeluarkan pisau. Ia menusukan pisau itu tepat di perutku, aku terjatuh, dari perutku mengucur darah. Orang-orang berlarian mengelilingiku, di antara kerumunan itu terlihat gadisku, ia mendatangiku, dengan kesadaran yang tersisa aku melihatnya menangis, bibirnya bergerak seperti berteriak namun aku tak dapat mendengar karena kesadaranku sudah habis.

 


aku sayang kamu

Silvi terhenyak kaget ketika Rara, teman sebangkunya, menyapanya dari belakang pundaknya.

“Lu ngagetin aja sih Ra.” Sahut Silvi melihat ke arah Rara yang saat ini sudah duduk di sampingnya.

“Sori-sori, lagi Lu pagi-pagi udah ngelamun aja, tadi Gwe ketemu Rio, gimana hubungan Lu sama Dia ?” Tanya Rara dengan cepat.

“Ga tau deh Ra ga ngerti.” Jawab Silvi singkat, Ia terlihat malas untuk membicarakan pacarnya itu.

Silvi sama Rio udah pacaran selama dua tahun sebelas bulan. Namun Rio bukan anak yang tenar, tidak ada yang bisa dibanggakan, Rio memiliki daya tahan tubuh yang lemah, mudah sekali terserang penyakit. Mereka sudah berpacaran dari smp, saat ini  Silvi sudah kelas satu sma sedangkan Rio kelas dua. Rio Kakak kelas Silvi waktu smp dan sekarang Mereka berada di sma yang sama.

“Kok Lu gitu si Sil ? Dia kan cowo Lu.” Sahut Rara melihat ke Silvi.

“Gwe udah cape jadi baby sitternya Dia.” Jawab Silvi. Hati Silvi kesal karena Rara harus membicarakan Rio.

Bel masuk berdering, seorang guru sudah masuk ke kelas Mereka.

“Terserah Lu deh Sil. Gwe Cuma pengen nyampein pesen Rio, nanti malem tepatnya jam dua belas, Rio nunggu Lu di taman tempat Lu berdua jadian.” Kata Rara mengakhiri pembicaraan.

Besok Hubungan Rio dan silvi tepat tiga tahun. Selama pelajaran di kelas, Rara tidak lagi mengajak Silvi berbicara, Mereka hanya diam saja, hanya berkata seperlunya, Silvi merasa tidak nyaman dengan kondisi ini, Ia telah menganggap Rio anak kecil yang hanya bisa ngerepotin, padahal Rio sering ngasih pengorbanan yang belum tentu cowo laen yang sehat bisa memberikan pengorbanan seperti itu, dan Rara tau semua pengorbanan Rio ke Silvi. Rara sahabat Silvi dari smp, Ia tidak menyangka kalo Silvi hanya mengasihani Rio bukan sayang pada Rio.

Ketika bel istirahat berbunyi, Rara langsung berjalan keluar kelas tak memperdulikan Silvi, padahal biasanya Mereka berdua selalu ke kantin bersama. Silvi pun keluar kelas berjalan menuju ke kantin, sampai di kantin Ia melihat Rio sedang duduk sendirian sambil memakan bekal yang Ia bawa dari rumah, ketika Rio melihat ke arah Silvi, Rio tersenyum dan mencoba memanggil Silvi, baru saja Rio hendak memanggil Silvi, Silvi langsung memalingkan wajahnya, Rio hanya terdiam melihat kejadian tersebut dan melanjutkan makan. Silvi mendekati Ryan, anak kelas tiga, sangat populer di smu tersebut, jago basket, mempunyai wajah yang ganteng, ke sekolah pun naik mobil pribadi yang Ia kendarai sendiri, banyak anak cewe di sekolah tersebut kagum dengannya, Ia terlihat sedang makan dengan teman-temannya, Silvi pun menghampirinya  dan segera duduk di samping Ryan.

“Hai Yan.” Sapa Silvi yang sudah akrab dengan Ryan. Karena beberapa hari ini Silvi dan Ryan sudah saling mengakrabkan diri.

“Hai Sil, Ga makan ?” tanya Ryan berlagak sok perhatian.

“Ngga masih kenyang.” Jawab Silvi. Silvi terlihat senang di perhatikan Ryan, walaupun Ia menyadari bahwa Rio sedang memperhatikannya, tapi Ia tetap mengacuhkan perhatian Rio.

“Sil, Nanti malem ada acara ga ?” Tanya Ryan.

“Ngga.” Jawab Silvi, Silvi tak memperdulikan ajakan Rio yang tadi di sampaikan Rara.

“Mau jalan bareng Gwe ga ?.” ajak Ryan.

“Ada apa nih ?” Tanya Silvi.

“Surprise, pokoknya Lu pake pakaian yang formal ya.” Sahut Ryan.

“Oke.” Silvi terlihat gembira sekali mendengar ajakan Ryan.

“Tapi cowo Lu gimana ?” Sahut Ryan sok peduli.

“Rio maksud Lu ? ngapain sih ngurusin Dia ! nyantai aja lagi.” Sahut Silvi tenang.

“Ya udah Gwe jemput Lu jam tujuh.” Ryan tersenyum penuh kemenangan.

“Sip.” Sahut Silvi.

Di tempat lain, Rio memperhatikan Silvi dengan Ryan yang terlihat sangat mesra dari sudut pandangnya, tiba-tiba Rara datang dan segera duduk di samping Rio.

“Udah ga usah di peduliin.” Sahut Rara yang sadar bahwa Rio sedang memperhatikan Ryan dan Silvi.

“Gwe sayang banget sama Silvi Ra.” Sahut Rio, yang tidak memalingkan wajahnya dan tetap memperhatikan ke arah Silvi yang terlihat begitu gembira.

“Rio,”

“Ra, ga usah mikirin Gwe.” Rio menghentikan pembicaraan dan segera pergi meninggalkan Rara. Sedangkan Rara masih mematung di situ memperhatikan perbuatan sahabatnya. Ia tidak mengerti apa yang saat ini ada di hati sahabatnya.

 

¯

 

Hari pun menunjukan pukul tujuh malam, Silvi sudah siap dengan gaunnya, Ia terlihat begitu cantik dengan balutan gaun hitam itu. Ryan pun menepati janjinya Ia menjemput Silvi tepat pukul tujuh, dengan mobilnya dan segera membawa Silvi ke tempat yang sangat romantis, untuk candelight dinner, Silvi terlihat sangat bahagia, makan malam hanya berdua di tempat yang romantis, bercahayakan lilin, hal yang tidak pernah di lakukan oleh Rio.

“Gwe ga nyangka Lu bakal ngajak Gwe candelight dinner.” Kata Silvi dengan senang.

“Namanya juga surprise, Lu suka kan ?” balas Ryan dengan perhatian, Ia mengenakan tuxedo sangat rapi.

“Makasih ya Yan.” Silvi tersenyum manis.

Mereka menghabiskan waktu dengan bercanda tawa, terlihat Silvi sangat senang mendapat perlakuan istimewa dari Ryan, Mereka larut dalam suasana romantis tersebut, Ryan menggengam tangan Silvi.

Waktu berlalu hingga pukul dua belas kurang sepuluh, Silvi masih berada di sana dengan Ryan, yang terlihat makin larut dengan suasana, malam itu hujan turun dengan deras sekali, terdengar dering telfon, hp silvi berbunyi.

“Bentar ya Yan.” Sahut Silvi ke Ryan sembari melepaskan genggaman tangan Ryan.

“Iya.” Sahut Ryan dengan BT.

Saat itu yang menelfon Silvi adalah Rara.

“Di mana Lu Sil ?” Tanya Rara.

“Lagi Candelight dinner nih ama Ryan, besok aja ya Gwe ceritain.” Sahut Silvi ingin segera mengakhiri pembicaraannya dengan Rara.

“Lu gila ya Sil !” Teriak Rara murka. “Gwe yakin saat ini Rio lagi nunggu Lu di taman , dan Lu tau sendiri kalo saat ini lagi ujan and Gwe rasa ga mungkin Dia ninggalin tempatnya karena Dia takut Lu dateng.”

“Ya Lu tolong telfonin deh ke Hpnya bilangin Gwe ga bakal dateng.” Jawab Silvi menyepelekan masalah.

“Ternyata Lu emang udah bener-bener ga perduli ama Rio ! Mana pernah cowo Lu punya HP ! Semoga Lu seneng sama sih Ryan !” Rara segera menutup telfonnya dengan kesal.

Silvi kembali melanjutkan obrolannya dengan Ryan, Ia seakan tidak perduli dengan apa yang dikatakan Rara, saat ini Ia sedang dengan anak yang paling tenar di sekolah, ga ada lagi yang bisa bikin seneng selain hal ini, bakal nemenin Ryan basket, bakal membuat cewe-cewe satu sekolah iri karena Silvi mendapatkan Idola sekolah, sedangkan Rio hanya anak yang ga tenar Cuma bakal jadi cemooh jika berjalan dengan anak seperti Rio, olahraga aja ga bisa, alat musik apapun ga ada yang bisa di maenin.

“Siapa yang nelfon Sil ?” Tanya Ryan dengan manisnya.

“Bukan siapa-siapa kok Yan.” Jawab Silvi dengan senang.

“Rio ga marah nih kalo Lu jalan bareng Gwe.” Kata Ryan.

“Ngga, nyantai aja.” Sahut Silvi.

Mereka kembali berpandangan, Ryan kembali memegang tangan Silvi, Silvi merasa senang sekali, sedangkan di tempat lain Rio menunggu ke datangan Silvi di sebuah bangku taman yang di sinari oleh lampu taman yang sudah setengah padam, Rio yang mengenakan celana panjang training dan baju kaos, saat itu terlihat mengigil dengan seluruh pakaiannya yang sudah basah kuyup, saat itu hujan pun belum berhenti bahkan bertambah deras, seakan menandakan kesedihannya melihat seorang anak lelaki yang di kecewakan kekasihnya.

Silvi terlihat begitu terpesona dengan Ryan, hingga HP Ryan berdering, memecah keheningan tersebut. Ryan pun menjawab telfonnya, Ryan terlihat begitu asik dengan telfonnya hingga beberapa saat, setelah Ryan menutup telfonnya. Ia kembali melihat ke arah Silvi, Silvi memberikan senyuman kepada Ryan.

“Sil sori ya, Gwe harus jemput cewe Gwe di bandara.” Sahut Ryan tenang.

“Maksud Lu Yan ?” Tanya Silvi melihat ke arah Ryan dengan panik.

“Masa ga ngerti sih, Gwe ga mungkin lah mau ama anak kecil kaya Lu. Lu Cuma buat iseng doang kali.” Sahut Ryan tanpa ada perasaan bersalah.

“Jadi bener kata anak-anak, kalo Lu itu nyari cewe Cuma buat di maenin doang. Emang Lu anggep Gwe apa ?” Sahut Silvi kesal.

“Emang, Lu Cuma cewe lugu yang bisa Gwe permainin dengan mudah karena Lu terlalu terpesona sama Gwe.”

“Kenapa Gwe bego ya ?” Sahut Silvi, air matanya sudah mulai menetes di pipinya.

“Tuh Lu sadar,” celetuk Ryan dengan senyum sinis. “Udah tau, Gwe anak yang suka maenin anak-anak kelas satu and dua, masih aja mau ngedeketin Gwe.”

“Lu ga punya hati ya Yan ?” terdengar suara Silvi yang mulai terisak.

“Punya, buktinya Gwe pengen jemput cewe Gwe.” Ucap Ryan tenang.

“Kenapa Lu nyakitin Gwe.” Tangisan Silvi semakin deras. Saat itu hujan berhenti turun, bulan sabit kembali bersinar terlihat seakan menandakan senyum.

“Tanya diri lu dong.” Kata Ryan.

“Maksud Lu ?” Ucap Silvi terisak-isak.

“Lu emang terlalu lugu ya Sil. Gampang banget maenin Elu ! Met tinggal Silvi !”

Ryan langsung berjalan pergi meninggalkan Silvi. Silvi menangis, Ia pun menelfon Rara, sahabat satu-satunya yang mengerti perasaannya, dan Ia berharap Rara mau menjadi tempat curhatnya.

“Ra..” suara Silvi terdengar parau.

“Ngapain lagi Lu nelfon Gwe ?” Tanya Rara dengan nada jutek.

“Ra…”

“Udah puas candelight dinnernya ! seneng Lu !” belum selsai Silvi menyelsaikan kata-katanya, Rara sudah menyambernya dengan bentakan, mendengar ucapan Rara, Silvi hanya bisa menangis.

“Kenapa Lu nangis ?” tanya Rara masih dengan nada marah.

“Ryan jahat Ra.” Sahut Silvi.

“Lu juga jahat Sil !” Jawab Rara ketus.

“Maksud Lu apa Ra ?”

“Ya tuhan, ada ya orang kaya Elu !”

“Maksud Lu apa Ra ? Gwe bener-bener ga ngerti.” Kata Silvi masih terisak.

“Saat ini ada cowo yang sayang banget sama Lu ! Peduli banget sama Lu ! nunggu Lu di sebuah tempat dengan badan yang basah kuyup. Tapi Lu ga peduli sama Dia !”

“Siapa Ra ? siapa ? siapa yang masih peduli sama Gwe saat ini !”

“Rio.” Sahut Rara tenang.

Silvi segera menutup telfonnya hatinya bergetar begitu mendengar nama itu terucap. Silvi pun pergi meninggalkan tempat tersebut menggunakan taksi menuju ke taman, di sebuah kursi taman, Silvi melihat Rio yang sudah basah kuyup, tubuhnya gemetar, mukanya sudah terlihat sangat pucat. Ia hanya di temani lampu taman yang bersinar remang-remang, Silvi segera menghampirinya.

“Rio maafin Silvi.” Ucap Silvi sembari menangis.

Rio menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibir Silvi. “Kamu ga perlu minta maaf kok,” Suara Rio terdengar parau. “Semuanya salah aku, semua cewe pasti berharap punya cowo yang bisa dibanggain, sedangkan aku ga bisa di banggain, aku tau kok kalo beberapa hari ini kamu deket sama Ryan, aku seneng kok kalo kamu seneng, walaupun itu ngorbanin kesenengan aku.” Rio semakin gemetar, badannya pun demam tinggi.

“Maksud kamu apa ?” Silvi menatap ke arah Rio dengan air mata masih mengalir di pipinya.

“Sil,” Rio membalas tatapan Silvi dengan penuh kasih sayang. “cinta menumbuhkan sayap untuk orang yang Kita sayang, jadi jika orang yang Kita sayangi ingin terbang lebih tinggi lagi, ikhlaskanlah, karena mungkin Kita bukan tempat yang terbaik untuk Dia hinggapi, cinta menumbuhkan sayap bukan mematahkannya, jadi jika orang yang Kita sayangi pergi meninggalkan Kita, tersenyumlah, doakan Dia mendapat yang lebih baik dari diri Kita. Jangan bertingkah bodoh karena tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk Kita. Kalo kamu mau ninggallin aku, silahkan aja, asal kamu bisa lebih bahagia lagi.”

“sayang, aku ga akan pernah ninggalin kamu, aku sayang sama kamu. Maafin aku.”

Rio hanya tersenyum melihat Silvi, saat itu Ia sudah terlalu lemah untuk berkata ataupun menggerakan sedikit bagian tubuhnya. Silvi pun mendekap erat tubuh Rio dengan penuh kasih sayang, Rio pingsan di dekapan Silvi namun Ia merasakan damai di pelukan itu begitu juga dengan Silvi.

***

 

PS : Sebuah cerita yang gw tulis waktu masih sma kelas satu, sekarang gw udah mau lulus kuliah


Hello world!

ini salah satu sarang dimana saya akan menyalurkan hobi menulis saya.

saya akan bersarang disini dalam jangka waktu yang belum ditentukan, menulis cerita pendek, cerita bersambung, atau sekedar berbagi pengalaman hidup.

salam kenal

Boy Azriyanto


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.