Silvi terhenyak kaget ketika Rara, teman sebangkunya, menyapanya dari belakang pundaknya.
“Lu ngagetin aja sih Ra.” Sahut Silvi melihat ke arah Rara yang saat ini sudah duduk di sampingnya.
“Sori-sori, lagi Lu pagi-pagi udah ngelamun aja, tadi Gwe ketemu Rio, gimana hubungan Lu sama Dia ?” Tanya Rara dengan cepat.
“Ga tau deh Ra ga ngerti.” Jawab Silvi singkat, Ia terlihat malas untuk membicarakan pacarnya itu.
Silvi sama Rio udah pacaran selama dua tahun sebelas bulan. Namun Rio bukan anak yang tenar, tidak ada yang bisa dibanggakan, Rio memiliki daya tahan tubuh yang lemah, mudah sekali terserang penyakit. Mereka sudah berpacaran dari smp, saat ini Silvi sudah kelas satu sma sedangkan Rio kelas dua. Rio Kakak kelas Silvi waktu smp dan sekarang Mereka berada di sma yang sama.
“Kok Lu gitu si Sil ? Dia kan cowo Lu.” Sahut Rara melihat ke Silvi.
“Gwe udah cape jadi baby sitternya Dia.” Jawab Silvi. Hati Silvi kesal karena Rara harus membicarakan Rio.
Bel masuk berdering, seorang guru sudah masuk ke kelas Mereka.
“Terserah Lu deh Sil. Gwe Cuma pengen nyampein pesen Rio, nanti malem tepatnya jam dua belas, Rio nunggu Lu di taman tempat Lu berdua jadian.” Kata Rara mengakhiri pembicaraan.
Besok Hubungan Rio dan silvi tepat tiga tahun. Selama pelajaran di kelas, Rara tidak lagi mengajak Silvi berbicara, Mereka hanya diam saja, hanya berkata seperlunya, Silvi merasa tidak nyaman dengan kondisi ini, Ia telah menganggap Rio anak kecil yang hanya bisa ngerepotin, padahal Rio sering ngasih pengorbanan yang belum tentu cowo laen yang sehat bisa memberikan pengorbanan seperti itu, dan Rara tau semua pengorbanan Rio ke Silvi. Rara sahabat Silvi dari smp, Ia tidak menyangka kalo Silvi hanya mengasihani Rio bukan sayang pada Rio.
Ketika bel istirahat berbunyi, Rara langsung berjalan keluar kelas tak memperdulikan Silvi, padahal biasanya Mereka berdua selalu ke kantin bersama. Silvi pun keluar kelas berjalan menuju ke kantin, sampai di kantin Ia melihat Rio sedang duduk sendirian sambil memakan bekal yang Ia bawa dari rumah, ketika Rio melihat ke arah Silvi, Rio tersenyum dan mencoba memanggil Silvi, baru saja Rio hendak memanggil Silvi, Silvi langsung memalingkan wajahnya, Rio hanya terdiam melihat kejadian tersebut dan melanjutkan makan. Silvi mendekati Ryan, anak kelas tiga, sangat populer di smu tersebut, jago basket, mempunyai wajah yang ganteng, ke sekolah pun naik mobil pribadi yang Ia kendarai sendiri, banyak anak cewe di sekolah tersebut kagum dengannya, Ia terlihat sedang makan dengan teman-temannya, Silvi pun menghampirinya dan segera duduk di samping Ryan.
“Hai Yan.” Sapa Silvi yang sudah akrab dengan Ryan. Karena beberapa hari ini Silvi dan Ryan sudah saling mengakrabkan diri.
“Hai Sil, Ga makan ?” tanya Ryan berlagak sok perhatian.
“Ngga masih kenyang.” Jawab Silvi. Silvi terlihat senang di perhatikan Ryan, walaupun Ia menyadari bahwa Rio sedang memperhatikannya, tapi Ia tetap mengacuhkan perhatian Rio.
“Sil, Nanti malem ada acara ga ?” Tanya Ryan.
“Ngga.” Jawab Silvi, Silvi tak memperdulikan ajakan Rio yang tadi di sampaikan Rara.
“Mau jalan bareng Gwe ga ?.” ajak Ryan.
“Ada apa nih ?” Tanya Silvi.
“Surprise, pokoknya Lu pake pakaian yang formal ya.” Sahut Ryan.
“Oke.” Silvi terlihat gembira sekali mendengar ajakan Ryan.
“Tapi cowo Lu gimana ?” Sahut Ryan sok peduli.
“Rio maksud Lu ? ngapain sih ngurusin Dia ! nyantai aja lagi.” Sahut Silvi tenang.
“Ya udah Gwe jemput Lu jam tujuh.” Ryan tersenyum penuh kemenangan.
“Sip.” Sahut Silvi.
Di tempat lain, Rio memperhatikan Silvi dengan Ryan yang terlihat sangat mesra dari sudut pandangnya, tiba-tiba Rara datang dan segera duduk di samping Rio.
“Udah ga usah di peduliin.” Sahut Rara yang sadar bahwa Rio sedang memperhatikan Ryan dan Silvi.
“Gwe sayang banget sama Silvi Ra.” Sahut Rio, yang tidak memalingkan wajahnya dan tetap memperhatikan ke arah Silvi yang terlihat begitu gembira.
“Rio,”
“Ra, ga usah mikirin Gwe.” Rio menghentikan pembicaraan dan segera pergi meninggalkan Rara. Sedangkan Rara masih mematung di situ memperhatikan perbuatan sahabatnya. Ia tidak mengerti apa yang saat ini ada di hati sahabatnya.
¯
Hari pun menunjukan pukul tujuh malam, Silvi sudah siap dengan gaunnya, Ia terlihat begitu cantik dengan balutan gaun hitam itu. Ryan pun menepati janjinya Ia menjemput Silvi tepat pukul tujuh, dengan mobilnya dan segera membawa Silvi ke tempat yang sangat romantis, untuk candelight dinner, Silvi terlihat sangat bahagia, makan malam hanya berdua di tempat yang romantis, bercahayakan lilin, hal yang tidak pernah di lakukan oleh Rio.
“Gwe ga nyangka Lu bakal ngajak Gwe candelight dinner.” Kata Silvi dengan senang.
“Namanya juga surprise, Lu suka kan ?” balas Ryan dengan perhatian, Ia mengenakan tuxedo sangat rapi.
“Makasih ya Yan.” Silvi tersenyum manis.
Mereka menghabiskan waktu dengan bercanda tawa, terlihat Silvi sangat senang mendapat perlakuan istimewa dari Ryan, Mereka larut dalam suasana romantis tersebut, Ryan menggengam tangan Silvi.
Waktu berlalu hingga pukul dua belas kurang sepuluh, Silvi masih berada di sana dengan Ryan, yang terlihat makin larut dengan suasana, malam itu hujan turun dengan deras sekali, terdengar dering telfon, hp silvi berbunyi.
“Bentar ya Yan.” Sahut Silvi ke Ryan sembari melepaskan genggaman tangan Ryan.
“Iya.” Sahut Ryan dengan BT.
Saat itu yang menelfon Silvi adalah Rara.
“Di mana Lu Sil ?” Tanya Rara.
“Lagi Candelight dinner nih ama Ryan, besok aja ya Gwe ceritain.” Sahut Silvi ingin segera mengakhiri pembicaraannya dengan Rara.
“Lu gila ya Sil !” Teriak Rara murka. “Gwe yakin saat ini Rio lagi nunggu Lu di taman , dan Lu tau sendiri kalo saat ini lagi ujan and Gwe rasa ga mungkin Dia ninggalin tempatnya karena Dia takut Lu dateng.”
“Ya Lu tolong telfonin deh ke Hpnya bilangin Gwe ga bakal dateng.” Jawab Silvi menyepelekan masalah.
“Ternyata Lu emang udah bener-bener ga perduli ama Rio ! Mana pernah cowo Lu punya HP ! Semoga Lu seneng sama sih Ryan !” Rara segera menutup telfonnya dengan kesal.
Silvi kembali melanjutkan obrolannya dengan Ryan, Ia seakan tidak perduli dengan apa yang dikatakan Rara, saat ini Ia sedang dengan anak yang paling tenar di sekolah, ga ada lagi yang bisa bikin seneng selain hal ini, bakal nemenin Ryan basket, bakal membuat cewe-cewe satu sekolah iri karena Silvi mendapatkan Idola sekolah, sedangkan Rio hanya anak yang ga tenar Cuma bakal jadi cemooh jika berjalan dengan anak seperti Rio, olahraga aja ga bisa, alat musik apapun ga ada yang bisa di maenin.
“Siapa yang nelfon Sil ?” Tanya Ryan dengan manisnya.
“Bukan siapa-siapa kok Yan.” Jawab Silvi dengan senang.
“Rio ga marah nih kalo Lu jalan bareng Gwe.” Kata Ryan.
“Ngga, nyantai aja.” Sahut Silvi.
Mereka kembali berpandangan, Ryan kembali memegang tangan Silvi, Silvi merasa senang sekali, sedangkan di tempat lain Rio menunggu ke datangan Silvi di sebuah bangku taman yang di sinari oleh lampu taman yang sudah setengah padam, Rio yang mengenakan celana panjang training dan baju kaos, saat itu terlihat mengigil dengan seluruh pakaiannya yang sudah basah kuyup, saat itu hujan pun belum berhenti bahkan bertambah deras, seakan menandakan kesedihannya melihat seorang anak lelaki yang di kecewakan kekasihnya.
Silvi terlihat begitu terpesona dengan Ryan, hingga HP Ryan berdering, memecah keheningan tersebut. Ryan pun menjawab telfonnya, Ryan terlihat begitu asik dengan telfonnya hingga beberapa saat, setelah Ryan menutup telfonnya. Ia kembali melihat ke arah Silvi, Silvi memberikan senyuman kepada Ryan.
“Sil sori ya, Gwe harus jemput cewe Gwe di bandara.” Sahut Ryan tenang.
“Maksud Lu Yan ?” Tanya Silvi melihat ke arah Ryan dengan panik.
“Masa ga ngerti sih, Gwe ga mungkin lah mau ama anak kecil kaya Lu. Lu Cuma buat iseng doang kali.” Sahut Ryan tanpa ada perasaan bersalah.
“Jadi bener kata anak-anak, kalo Lu itu nyari cewe Cuma buat di maenin doang. Emang Lu anggep Gwe apa ?” Sahut Silvi kesal.
“Emang, Lu Cuma cewe lugu yang bisa Gwe permainin dengan mudah karena Lu terlalu terpesona sama Gwe.”
“Kenapa Gwe bego ya ?” Sahut Silvi, air matanya sudah mulai menetes di pipinya.
“Tuh Lu sadar,” celetuk Ryan dengan senyum sinis. “Udah tau, Gwe anak yang suka maenin anak-anak kelas satu and dua, masih aja mau ngedeketin Gwe.”
“Lu ga punya hati ya Yan ?” terdengar suara Silvi yang mulai terisak.
“Punya, buktinya Gwe pengen jemput cewe Gwe.” Ucap Ryan tenang.
“Kenapa Lu nyakitin Gwe.” Tangisan Silvi semakin deras. Saat itu hujan berhenti turun, bulan sabit kembali bersinar terlihat seakan menandakan senyum.
“Tanya diri lu dong.” Kata Ryan.
“Maksud Lu ?” Ucap Silvi terisak-isak.
“Lu emang terlalu lugu ya Sil. Gampang banget maenin Elu ! Met tinggal Silvi !”
Ryan langsung berjalan pergi meninggalkan Silvi. Silvi menangis, Ia pun menelfon Rara, sahabat satu-satunya yang mengerti perasaannya, dan Ia berharap Rara mau menjadi tempat curhatnya.
“Ra..” suara Silvi terdengar parau.
“Ngapain lagi Lu nelfon Gwe ?” Tanya Rara dengan nada jutek.
“Ra…”
“Udah puas candelight dinnernya ! seneng Lu !” belum selsai Silvi menyelsaikan kata-katanya, Rara sudah menyambernya dengan bentakan, mendengar ucapan Rara, Silvi hanya bisa menangis.
“Kenapa Lu nangis ?” tanya Rara masih dengan nada marah.
“Ryan jahat Ra.” Sahut Silvi.
“Lu juga jahat Sil !” Jawab Rara ketus.
“Maksud Lu apa Ra ?”
“Ya tuhan, ada ya orang kaya Elu !”
“Maksud Lu apa Ra ? Gwe bener-bener ga ngerti.” Kata Silvi masih terisak.
“Saat ini ada cowo yang sayang banget sama Lu ! Peduli banget sama Lu ! nunggu Lu di sebuah tempat dengan badan yang basah kuyup. Tapi Lu ga peduli sama Dia !”
“Siapa Ra ? siapa ? siapa yang masih peduli sama Gwe saat ini !”
“Rio.” Sahut Rara tenang.
Silvi segera menutup telfonnya hatinya bergetar begitu mendengar nama itu terucap. Silvi pun pergi meninggalkan tempat tersebut menggunakan taksi menuju ke taman, di sebuah kursi taman, Silvi melihat Rio yang sudah basah kuyup, tubuhnya gemetar, mukanya sudah terlihat sangat pucat. Ia hanya di temani lampu taman yang bersinar remang-remang, Silvi segera menghampirinya.
“Rio maafin Silvi.” Ucap Silvi sembari menangis.
Rio menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibir Silvi. “Kamu ga perlu minta maaf kok,” Suara Rio terdengar parau. “Semuanya salah aku, semua cewe pasti berharap punya cowo yang bisa dibanggain, sedangkan aku ga bisa di banggain, aku tau kok kalo beberapa hari ini kamu deket sama Ryan, aku seneng kok kalo kamu seneng, walaupun itu ngorbanin kesenengan aku.” Rio semakin gemetar, badannya pun demam tinggi.
“Maksud kamu apa ?” Silvi menatap ke arah Rio dengan air mata masih mengalir di pipinya.
“Sil,” Rio membalas tatapan Silvi dengan penuh kasih sayang. “cinta menumbuhkan sayap untuk orang yang Kita sayang, jadi jika orang yang Kita sayangi ingin terbang lebih tinggi lagi, ikhlaskanlah, karena mungkin Kita bukan tempat yang terbaik untuk Dia hinggapi, cinta menumbuhkan sayap bukan mematahkannya, jadi jika orang yang Kita sayangi pergi meninggalkan Kita, tersenyumlah, doakan Dia mendapat yang lebih baik dari diri Kita. Jangan bertingkah bodoh karena tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk Kita. Kalo kamu mau ninggallin aku, silahkan aja, asal kamu bisa lebih bahagia lagi.”
“sayang, aku ga akan pernah ninggalin kamu, aku sayang sama kamu. Maafin aku.”
Rio hanya tersenyum melihat Silvi, saat itu Ia sudah terlalu lemah untuk berkata ataupun menggerakan sedikit bagian tubuhnya. Silvi pun mendekap erat tubuh Rio dengan penuh kasih sayang, Rio pingsan di dekapan Silvi namun Ia merasakan damai di pelukan itu begitu juga dengan Silvi.
***
PS : Sebuah cerita yang gw tulis waktu masih sma kelas satu, sekarang gw udah mau lulus kuliah